[Tulisan ini juga dimuat di buku Media Rakyat: Mengorganisasi Diri Melalui Informasi, terbitan COMBINE Resource Institution, 2006]
Tahun 1998 merupakan tonggak sejarah perubahan politik di Indonesia. Gelombang pembaruan menolak segala bentuk pembelengguan pemerintah atas rakyat tak terbendung, terwakili dengan satu kata : reformasi. Denyut gelombang perubahan itu cukup menggoncang karena berpusat di jantung Indonesia, Jakarta.
Hiruk pikuk reformasi yang terjadi di Jakarta ternyata tak membawa perubahan politik sedikitpun di Desa Timbulharjo. Desa yang terletak tujuh kilometer arah selatan Kota Yogyakarta itu tetap saja seperti Indonesia mini pada era sebelum 1998 : birokrasinya korup, kelas menengahnya tidak peduli (apatis), dan masyarakat akar rumputnya takut. Keadaan ini membuat sekelompok anak muda di Desa Timbulharjo gelisah.
Kegelisahan itu kian memuncak ketika pada pertengahan 1999 muncul kabar di masyarakat bahwa Desa Timbulharjo akan menerima dana Jaring Pengaman Sosial (JPS) yang lumayan besar jumlahnya. Kebanyakan warga menduga akan terjadi penyelewengan penggunaan dana tersebut, sehingga pada akhirnya hanya akan menguntungkan segelintir orang yang dekat dengan kekuasaan. Sementara kebanyakan warga miskin yang berhak menerima justru akan gigit jari.
Melihat kondisi demikian, para pemuda yang gelisah itu pun berkumpul. Lewat serangkaian obrolan di surau usai sholat tarawih, mereka bersepakat mengambil langkah nyata untuk mendorong perubahan. Tapi, langkah nyata seperti apa yang bisa dilakukan? Bagaimana mungkin anak muda yang hanya belasan orang mampu mendorong perubahan di sebuah desa yang penduduknya lebih dari 20 ribu jiwa?
Para pemuda itu terus mencari cara. Mereka sadar bahwa jika diibaratkan peperangan, musuh yang dihadapi terlalu kuat untuk dilawan. Dalam situasi tersebut, strategi yang paling tepat adalah gerilya. Dari berbagai gagasan yang muncul, mereka akhirnya memilih media sebagai alat pendorong perubahan. Bentuk media ini dipilih karena dapat digunakan sebagai sarana untuk mengkomunikasikan gagasan, ide dan saran serta dapat juga digunakan sebagai alat pengawasan bagi masyarakat. Menyadari minimnya dana dan orang yang bersedia terlibat dalam kegiatan tersebut, bentuk media yang dianggap cocok adalah buletin yang akan diedarkan kepada warga.
Pada tanggal 14 Januari 2000, buletin warga Desa Timbulharjo terbit untuk pertama kali di Dusun Dadapan, Desa Timbulharjo. Edisi pertama dicetak sebanyak 75 eksemplar, dibiayai dengan dana hasil patungan sebesar 30 ribu rupiah, dibagikan secara gratis kepada warga masyarakat. Pendistribusikan buletin ini pada awalnya dilakukan dengan menitipkan di masjid-masjid ketika sholat Jum’at, dengan maksud memudahkan warga untuk mendapatkannya.
Buletin warga Desa Timbulharjo diberi nama Angkringan. Nama ini terinspirasi dari warung angkringan yang sudah sangat terkenal serta identik dengan kehidupan masyarakat bawah, khususnya di Yogyakarta. Di warung angkringan orang dapat minum dan makan dengan harga yang sangat murah dengan sajian menu yang khas yaitu “nasi kucing” dan jahe panas. Warung angkringan bagi masyarakat Yogyakarta bukanlah sekedar tempat makan, namun juga menjadi ruang diskusi publik yang nyaman. Di warung angkringan orang bebas berbicara dan mengungkapkan segala uneg-unegnya tanpa rasa takut dan tekanan dari siapapun.
Sebagaimana halnya warung angkringan, kehadiran Buletin Angkringan diharapkan dapat menjadi wadah bagi warga Desa Timbulharjo untuk mengungkapkan ide, gagasan dan juga kritikan terhadap persoalan yang terjadi di sekitar mereka.
Di luar dugaan para pelopor Buletin Angkringan, ternyata kehadiran buletin ini disambut hangat oleh warga. Melalui Buletin Angkringan yang terbit sekali dalam seminggu, warga bisa mengetahui informasi dan persoalan yang sedang terjadi di sekitarnya sehingga sadar tentang arti penting sebuah informasi. Maka tak heran jika kemudian warga selalu menunggu dan menanyakan informasi terbaru dari Buletin Angkringan ini. Bahkan sejumlah warga mengusulkan agar Buletin Angkringan tidak dibagi gratis, melainkan dijual atau berlangganan. Ini dilakukan agar Buletin Angkringan bisa terus terbit.
Mulai edisi ketiga, Buletin Angkringan menawarkan kepada warga untuk menjadi pelanggan tetap, dengan memberikan kontribusi sebesar 1.500 rupiah setiap bulan. Dengan uang tersebut pelanggan Buletin Angkringan akan mendapatkan buletin sebanyak empat edisi dan diantar langsung ke rumah warga. Bagi warga yang tidak menjadi pelanggan tetap pun dapat membeli secara eceran dengan harga 400 rupiah setiap edisinya. Pembeli eceran tidak perlu repot datang ke sekretariat Angkringan, karena mereka bisa membelinya di warung-warung agen penjualan Buletin Angkringan yang tersebar di Desa Timbulharjo.
Secara bertahap, pelanggan Buletin Angkringan pun terus bertambah. Semula Buletin yang hanya didistribusikan melalui masjid dan hanya menjangkau warga di Dusun Dadapan berangsur harus memenuhi dan menjangkau seluruh warga di Desa Timbulharjo yang terdiri dari 16 dusun. Kondisi ini oleh redaksi Buletin Angkringan pun direspon dengan memperbanyak oplah tiap edisinya sehingga dapat memenuhi permintaan dari warga.
Lahirnya Radio Angkringan
Pada perkembangannya pengurus Angkringan kewalahan melayani besarnya permintaan warga untuk berlangganan buletin karena keterbatasan jumlah personil. Periodisasi terbit sekali dalam seminggu seringkali membuat informasi yang mestinya segera diketahui warga harus tertunda. Sebagai media cetak, Angkringan juga mensyaratkan kemampuan membaca bagi warga yang ingin memahami informasi yang dimuat dalam buletin. Padahal warga Desa Timbulharjo, terutama yang berusia lanjut, banyak yang buta huruf.
Berangkat dari berbagai kendala tersebut, pengurus Angkringan memutuskan untuk menghadirkan media lain yang bisa melengkapi keberadaan buletin, yaitu media radio. Bulan Agustus 2000, Radio Angkringan resmi mengudara dengan pemancar radio bekas yang dibeli seharga 300 ribu rupiah. Peralatan radio tersebut kemudian secara bergotong royong didirikan. Menggunakan tiang antena dari bambu dan sebagian besar peralatan berasal dari pinjaman warga, Radio Angkringan saat itu hanya bisa menjangkau sepertiga luas wilayah Desa Timbulharjo.
Pada bulan Juli 2000, Buletin Angkringan mengikuti lomba Pers Alternatif yang diadakan oleh Institut Studi Arus Informasi (ISAI) Jakarta. Buletin Angkringan mendapat penghargaan khusus dengan kategori “Pers Desa” serta mendapat hadiah uang sebesar Rp. 2,5 Juta. Dana ini digunakan untuk perbaikan dan penambahan peralatan radio hingga akhirnya seluruh wilayah Desa Timbulharjo bisa menerima siaran Radio Angkringan.
Diskusi Publik melalui Obrolan Angkringan
Radio Angkringan memiliki satu acara khas yang diberi nama Obrolan Angkringan. Acara ini berbentuk sandiwara radio yang disiarkan secara langsung. Tema yang diangkat berupa isu yang sedang menjadi perhatian kebanyakan warga, seperti masalah pendidikan, pertanian, keamanan, hingga pada masalah politik. Seting tempatnya berupa warung angkringan dengan dua tokoh sentral yaitu mbah Timbul dan Lek Wiknyo. Acara ini dilakukan sekali dalam seminggu. Penetuan tema dilakukan secara spontan. Sepuluh menit sebelum acara, diadakan diskusi penentuan tema sekaligus menyusun alur cerita. Selanjutnya siaran dilakukan dengan mengandalkan kreativitas dan improvisasi para penyiarnya.
Warga sangat menyenangi acara ini, karena acara ini kemas cukup menggelitik warga. Kadang warga dibuat gemas. Mereka tak hanya mendengarkan, tapi juga bisa langsung datang ke studio dan ikut menjadi pemeran dalam sandiwara ini.
Diakhir siarannya Obrolan Angkringan tidak menawarkan sebuah alternatif solusi tunggal dengan cara menggurui warga, tapi justru memberikan kesempatan kepada warga untuk menyimpulkan dan merancang sebuah bentuk solusi yang akan dilakukan.
Buletin dan Radio Angkringan pada perjalanannya telah menunjukkan peran yang cukup penting dalam menumbuhkan kesadaran kritis warga. Pada sejumlah peristiwa bahkan Angkringan mampu mendorong terjadinya perubahan kebijakan di tingkat desa yang bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh warga Desa Timbulharjo. Beberapa peran Angkringan adalah sebagai berikut:
Meluruskan Penyimpangan Dana P2KP
Dalam satu terbitannya, Buletin Angkringan mengungkap adanya penyelewengan dalam Program Penanggulangan Kemiskinan untuk Perkotaan (P2KP). Program senilai setengah milyar rupiah ini sebenarnya dikucurkan untuk membantu pemulihan ekonomi warga miskin. Namun beberapa pengelola program malah bersekongkol dengan sejumlah pengurus koperasi. Dana program dimasukkan ke koperasi, lantas koperasi meminjamkan lagi dana tersebut kepada anggotanya dengan nilai bunga tiga kali lipat. Dengan demikian, warga miskin yang seharusnya mendapatkan fasilitas justru tidak bisa meminjam uang.
Buletin Angkringan membeberkan data berisi nama peminjam dana beserta jumlah pinjamannya. Tak ketinggalan, Angkringan juga memuat prosedur peminjaman uang yang seharusnya dibandingkan dengan praktek yang dilakukan oleh para pengelola program. Data itu disajikan dalam bentuk diagram visual sehingga bisa dengan mudah dibaca oleh warga yang buta huruf sekalipun. Berbagai kejanggalan, ketimpangan, dan penyelewengan bisa dengan mudah dibaca oleh warga.
Pada awalnya warga kurang peduli dengan pelaksanaan program ini, tetapi ketika bulletin Angkringan mampu memberikan informasi yang jelas tentang kejadian yang sebenarnya dalam pelaksanaan program ini, kesadaran warga pun tergugah. Warga yang merasa dirugikan kemudian melayangkan protes dan dimuat di Buletin Angkringan. Menyikapi reaksi dari warga tersebut, pelaksana program segera membatalkan pinjaman kepada koperasi yang berperan sebagai makelar, untuk kemudian menyalurkan pinjaman kepada warga yang memang membutuhkan.
Membongkar Kemacetan Kredit Usaha Tani (KUT)
Buletin Angkringan dalam salah satu edisinya mengungkap kemacetan cicilan Kredit Usaha Tani (KUT) yang dilakukan oleh oknum Kepala Dusun. Saat itu menjelang musim tanam, banyak petani yang mengeluh karena sulit mencari dana pinjaman. Padahal mereka tahu bahwa di Desa Timbulharjo ada program Kredit Usaha Tani (KUT). Pengurus koperasi tidak mau memberikan pinjaman dengan alasan angka kemacetan kredit petani di Desa Timbulharjo cukup tinggi, mencapai 70 persen.
Buletin Angkringan menurunkan laporan utama tentang tingginya kredit macet di Desa Timbulharjo. Liputan Angkringan didukung wawancara kepada pengurus koperasi dan data- data rinci mengenai nama-nama kelompok tani dan besarnya nilai tunggakan.
Di salah satu dusun yang nilai kemacetannya cukup tinggi, ada seorang anggota kelompok tani yang berlangganan Buletin Angkringan. Dia cukup kaget membaca pemberitaan tentang kredit macet di kelompok tani yang dia ikuti. Sebagai pengurus kelompok, orang ini tahu persis bahwa anggota kelompok taninya sudah melunasi cicilan pinjaman. Kalau masih dianggap menunggak, berarti ada masalah. Karena di dusun tersebut hanya dia yang berlangganan Buletin Angkringan, maka orang tersebut langsung memfotokopi Buletin Angkringan dan membagikan kepada warga yang lain. Kemudian mereka melakukan pertemuan dan membahas masalah kemacetan kredit tersebut. Dalam pertemuan tersebut akhirnya sang ketua kelompok yang kebetulan menjabat kepala dusun mengakui bahwa uang cicilan kelompok dia gunakan untuk kebutuhan pribadi. Ketua kelompok menyanggupi untuk segera melunasi cicilan kelompok dengan cara menjual sepeda motornya.
Berita tentang penyalahgunaan uang cicilan kelompok tani itu dimuat dalam Buletin Angkringan edisi berikutnya. Mengetahui berita tersebut, kelompok-kelompok tani lain yang terrnyata juga menemukan kasus yang sama. Akhirnya para ketua kelompok yang menyelewengkana dana cicilan dari anggota terpaksa melunasinya. Kemacetan sebesar 70 persen berkurang drastis menjadi kurang dari 20 persen. Setelah itu para petani kembali bisa mendapatkan fasilitas kredit.
Mendorong Kompensasi Dana BBM Tepat Sasaran
Bulan Juli 2000, pemerintah Indonesia berencana menaikkan harga BBM. Sebagai kompensasi atas kebijakan tersebut, pemerintah menyiapkan dana kompensasi yang akan disalurkan secara langsung kepada keluarga miskin. Berita nasional tentang rencana kenaikan BBM ini diangkat oleh Buletin Angkringan dengan konteks Desa Timbulharjo.
Dalam tulisannya, Angkringan menjelaskan bahwa jika rencana kompensasi BBM dilakukan maka yang akan menerima adalah warga yang tercatat sebagai keluarga miskin, berdasarkan data yang dibuat oleh pemerintah desa. Daftar lengkap keluarga miskin Desa Timbulharjo dicantumkan sehingga warga yang lain bisa ikut mengetahui.
Warga membandingkan data yang dimuat Angkringan dengan kondisi lapangan. Tampak jelas bahwa lebih dari setengah daftar orang msikin sebenarnya adalah orang kaya yang memiliki hubungan kerabat dengan para pamong desa. Maka mengalirlah protes warga yang diujudkan dalam surat pembaca, maupun datang langsung ke redaksi Angkringan untuk mempertanyakan kebenaran data tersebut. Buletin Angkringan edisi berikutnya dipenuhi protes warga dan memaksa Pemerintah Desa Timbulharjo mengubah data keluarga miskin.
Perubahan data tersebut dimuat dalam Buletin Angkringan edisi berikutnya. Dengan perubahan tersebut, maka kompensasi dana BBM jatuh kepada warga yang memang membutuhkan.
Mengawal Proses Pemilihan Lurah Desa
Awal tahun 2003 Desa Timbulharjo juga disibukkan dengan sebuah hajatan besar, yaitu pemilihan Lurah Desa Timbulharjo. Sudah menjadi kebiasaan, ketika akan diadakan pemilihan lurah selalu terjadi politik uang, dan tindakan saling menjelekkan sesama calon yang tak jarang berujung pada tindakan kekerasan. Warga biasanya hanya mendapat informasi yang sangat minim tentang latar belakang, visi dan misi, program kerja dari para calon tersebut. Kalau pun warga mendapat informasi tentang satu calon itu hanya dilakukan oleh para tim sukses dan hanya mengatakan sisi baik atau janji yang indah-indah saja, tetapi tidak memberikan informasi yang cukup lengkap.
Proses pemilihan lurah sejak tahap penyusunan tata tertib, pendaftaran calon, kampanye, hingga pemungutan suara sangat mungkin terjadi kecurangan. Menyikapi hal ini Angkringan melalui buletin dan radionya menurunkan sejumlah liputan khusus. Dengan memberikan informasi lengkap tentang Pemilihan Lurah Desa Timbulharjo Angkringan berharap warga bisa menjatuhkan pilihan kepada calon yang tepat. Selain itu, berbagai bentuk penyimpangan dan kecurangan diharapkan bisa diminimalkan.
Buletin Angkringan mengawali kegiatannya dengan liputan khusus tentang profil para calon lurah beserta visi, misi dan programnya. Aturan main pemilihan juga disosialisasikan kepada warga, sehingga jika terjadi kecurangan oleh calon, warga bisa segera melaporkan kepada panitia pemilihan. Pada masa kampanye, janji-janji para calon didokumentasikan, kemudian disajikan dalam tulisan di buletin maupun siaran di radio.
Pada hari pemungutan suara, Angkringan juga melakukan dua kegiatan besar. Pertama, membagikan edisi khusus Buletin Angkringan yang berisi janji-janji para calon lurah sekaligus mengajak warga untuk suatu saat nanti menagih bersama kepada calon terpilih ketika sudah menjabat lurah. Edisi ini dicetak dalam jumlah 14 ribu eksemplar dan dibagikan secara gratis kepada warga yang telah memberikan hak suaranya. Di sampul halaman muka buletin tersebut, Angkringan mengingatkan warga untuk menyimpan baik-baik buletin Angkringan karena suatu saat pasti ada gunanya. Soalnya, dalam buletin tersebut terekam janji-janji calon lurah ketika masa kampanye. Kelak, ketika lurah terpilih saat menjabat tidak menjalankan apa yang telah dia janjikan, maka warga bisa menagih janji sang lurah secara bersama-sama.
Sedangkan radio Angkringan menyiarkan langsung suasana pemilihan dan penghitungan suara dari 23 tempat pemungutan suara (TPS) di Desa Timbulharjo. Siaran langsung ini dilakukan dengan radio komunikasi handy talkie (HT) bekerjasama dengan Organisasi Amatir Radio (ORARI) Kabupaten Bantul. Warga bisa mengikuti perkembangan situasi melalui radio dari rumah masing-masing. Pada masa sebelumnya warga memadati balai desa pada saat penghitungan suara sehingga tak jarang terjadi bentrokan fisik antar pendukung. Kali ini balai desa hanya didatangi oleh belasan orang tim suskses yang menyaksikan langsung penghitungan suara, sehingga bentrokan antar pendukung tidak terjadi. Radio Angkringan sudah mengumumkan hasil perolehan suara satu jam setelah selesainya penghitungan di TPS. Sementara panitia pemilihan baru mengumumkan hasil penghitungan lima jam sesudahnya.
Kegiatan Off-air
Selain melalui tulisan dan siaran di radio, Angkringan juga memberikan layanan kepada warga malalui kegiatan di luar studio. Bentuk kegiatan di luar studio yang pernah dilakukan antara lain :
Menggalang Solidaritas Warga melalui Dana Beasiswa
Kegiatan lain yang pernah dilakukan Angkringan adalah memfasiltasi pemetaan terhadap masalah dan kebutuhan warga desa Timbulharjo. Kegiatan ini pada akhirnya mampu menghasilkan basis data Desa Timbulharjo yang antara laian memuat tentang data orang miskin dan anak terancam putus sekolah.
Data hasil pemetaan tersebut dipublikasikan kepada warga melalui radio dan buletin. Sebuah pesan layanan masyarakat dibuat khusus untuk menumbuhkan kepedulian warga terhadap tetangga mereka yang terancam putus sekolah. Pesan layanan tersebut rupanya sangat menyentuh dan mampu menggerakkan para dermawan menyumbangkan sebagian harta mereka untuk membiayai belasan anak yang terancam putus sekolah. Dana beasiswa dari warga tersebut kemudian disalurkan langsung ke sekolah. Tak kurang dari 10 anak terancam putus sekolah berhasil diselamatkan melalui penggalangan solidaritas ini.
Layar Tancap Pemilu 2004
Menjelang Pemilu tahun 2004 banyak warga yang datang ke Angkringan. Mereka mengaku bingung dengan cara pelaksanaan pemilu yang konon berbeda dengan pemilu sebelumnya.
Menyikapi hal ini, pengurus Angkringan segera menggelar rapat. Akhirnya diputuskan media yang paling cocok untuk menjelaskan tata cara pemilu buknlah buletin atau radio, melainkan video. Bekerjasama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bantul, Angkringan mengadakan sosialisasi pemilu menggunakan media layar tancap ke dusun-dusun di Desa Timbulharjo. Usai pemutaran film, warga bisa berdialog dengan panitia pemilihan tingkat desa yang memang dihadirkan sebagai narasumber dalam acara tersebut.
Tulisan ini berlabel angkringan, desa, komunitas, radio













Belum ada tanggapan
Kirim tanggapan